By PVG viagra

Musik Pop

Saya menyalahkan Ruth Sahanaya. Semua berawal darinya. Saya tidak pernah memperhatikan musik pop Indonesia sebelum mengenalnya. Namun ketika mendengar ia bernyanyi Kaulah Segalanya, saya langsung terpukau dan ia menjadi diva pertama bagi saya.

Awalnya saya pura-pura tidak tertarik. Saya tidak mau menunjukkan antusiasme saya pada lagu-lagunya, dan saya cuma sembunyi-sembunyi saja bersenandung dan mengetuk-ngetukkan kaki tiap mendengar lagunya.

Tetapi, ketika saya sendirian di rumah atau berada di mobil, saya langsung ikut bernyanyi penuh gairah. Kemudian, saya mulai berburu album-albumnya di toko-toko CD (yang pada saat itu masih lebih banyak dari sekarang).

Suatu waktu, bahkan saya sampai menulis liriknya supaya bisa dinyanyikan di sebuah pesta. Penampilan saya waktu itu tidak begitu sukses. Yang jelas saya pasti tidak akan lolos Indonesian Idol.

Dengan meraba-raba nada sejak awal, semuanya terdengar fals, bahkan liriknya pun salah-salah. Namun, pengalaman itu justru semakin menambah rasa hormat saya kepada Ruth. Lagu itu memang susah sekali dinyanyikan.

Bayangkan betapa bersemangatnya saya ketika beberapa tahun kemudian, saya menemukan CD Tiga Diva(Semua Jadi Satu), dengan Ruth Sahanaya yang dipasangkan bersama Krisdayanti dan Titi DJ.

Sekalinya saya ‘terperangkap’ pesona Ruth Sahanaya, saya tidak bisa lepas. Lagu-lagu pop Indonesia terus mengisi alam bawah sadar saya: lantang, melankolis dan kadang terdengar cheesy. Lagu-lagu Indonesia menjadi semacam soundtrack yang terus-menerus menemani saya ke manapun saya pergi.

Saya mendengarnya di mal-mal kota Medan, terminal bandara di Surabaya, di tengah kemacetan Jakarta, warung-warung di tengah hujan di Tasikmalaya, dan jalan-jalan kosong yang melintasi tanah Kalimantan yang luas – sebuah rangkaian lagu tema personal sepanjang perjalanan saya melintasi nusantara.

Anehnya, saya tidak pernah menyukai lagu pop Malaysia. Bagi saya, terlalu banyak lengkingan, terlalu banyak ‘Isa-bella!’, Ella, KRU dan banyak lagi nada-nada ‘tidak enak’ yang mengganggu telinga.

Sejak dulu saya sudah memutuskan, itu bukan buat saya, dan, walaupun saya malu mengakuinya saya menganggap musik Malaysia itu tidak kaya, tidak orisinal, dan mudah dilupakan. Tetapi itu dulu, sebelum ada Ruth Sahanaya.

Namun untuk mempelajari musik pop Indonesia cukup memakan waktu, dan meskipun saya tetap setia pada Ruth – sang diva saya – saya mulai bisa menemukan sedikit perbedaan di antara musisi-musisinya.

Ada sejumlah penyanyi modern – Glenn Fredly dan Marcell dengan musik mereka yang jazzy. Lalu ada Iwan Fals, dengan monolog kerasnya ala Leonard Cohen yang menggelitik nurani saya, vokal Ari Lasso yang lantang dan lagu-lagu rock Ahmad Dhani yang memikat dan anehnya tidak mau hilang dari kepala.

Saya bisa menonton video klip Laskar Cinta dari Dewa 19 (Band-nya) berulang kali. Saya tertarik dengan gambar-gambar memukau dan kontradiktif yang ditampilkannya – orang-orang yang bermeditasi sambil berputar-putar dengan latar belakang dataran bulan yang suram.

Akan tetapi, setelah mendengarkan lagu-lagu pop rock ‘serius’ semacam ini, saya lagi-lagi kembali meraup lagu-lagu pop manis, seperti Samsons, Letto, Drive dan Nidji – deretan band yang menawarkan lirik dan melodi semanis gula.

Tapi, grup asal Bandung Project Pop lah yang benar-benar melepaskan naluri pop di dalam diri saya. Lagu-lagu mereka yang bebas dan riang begitu membumi dan meletupkan semangat kerakyatan. Bahkan, kalau saya terlalu lama mendengarkan lagu mereka, saya terpaksa akan menari, di manapun saya berada… dan biasanya berakhir dengan situasi memalukan.

Musik Indonesia ini telah begitu menyatu dengan segala aktivitas saya, hingga seringkali saya terbangun di pagi hari dengan lagu Ungu, Letto dan Cokelat yang bermain di dalam kepala saya.

Lalu, ada rajanya – Ariel, yang melejit karena skandal Peter Porn-nya – dengan gaya rock-star yang angkuh dan narsis, yang telah membuatnya menonjol di antara vokalis-vokalis band lain. Tentu saja, ini berakhir dengan kontroversi dimasukkannya dia ke penjara, yang akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun ke depan – sebuah simbol pemberontakan dan pengucilan ala James Dean.

Dan ini membawa saya kembali pada sang diva kesayangan saya. Ruth perlahan-lahan telah dilengserkan dari singgasananya sebagai diva nomor satu di hati saya. Dia telah ditumbangkan oleh Bunga Citra Lestari (atau BCL) – penyanyi/aktris mungil dan imut dengan pipi tembam.

Kehadirannya tidak terlalu menonjol dan sama sekali bukan diva, akan tetapi lagu-lagunya memiliki melodi yang lembut dan melankolis bergaya country+western, yang mungkin mencerminkan betapa saya sudah tua dan tidak lagi urakan.

Jadi, ketika saya terjebak macet di Jalan Sudirman atau Rasuna Said, saya mendengarkan lagu-lagu BCL –Karena Kucinta Kau atau Tentang Kamu. Lagu-lagu ini sangat cocok didengarkaan pada saat mobil kita terhenti total, di mana waktu berhenti dan kita butuh sesuatu untuk meredakan rasa frustrasi kita, dan berfantasi tentang hal-hal lain. (Sumber: www.inilah.com - 06/06/2011)