By PVG viagra

Situasi Ekonomi Malaysia 2009

Situasi ekonomi di Malaysia sepanjang tahun 2009 tidak terlepas dari pengaruh krisis keuangan global yang melanda dunia pada akhir tahun 2008. Krisis keuangan yang dipicu oleh masalah sub-prime morgage di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2007 dampaknya semakin dalam dan meluas. Setelah hampir 2 tahun sejak bermulanya krisis tersebut, dunia masih merasakan akibat dari krisis tersebut.

Pengaruh krisis ekonomi tersebut diatas dampaknya turut dirasakan oleh Malaysia pada kuartal ke-4 tahun 2008. Ekspor dan out-put sektor perindustrian memburuk serta investasi menurun. Akibatnya, pertumbuhan Produk Domestik Bruto/Gross Domestic Product (PDB/GDP) pada periode tersebut menjadi sangat rendah yaitu hanya 0,1% berbanding rata-rata 6,3% pada 9 bulan pertama tahun 2008. Rendahnya pertumbuhan PDB/GDP dimaksud terutama disebabkan oleh terjadinya penyusutan nilai ekspor sebesar 13,4%, terutama ekspor produk manufaktur yang mengalami kontraksi sebesar 8,8% dan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonominya.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Malaysia cukup baik, karena didukung oleh konsistensi pelaksanaan berbagai kebijakan, keberhasilan promosi dan usaha untuk meningkatkan perdagangan luar negerinya. Nilai perdagangan luar negeri Malaysia pada saat ini hampir mencapai 200% berbanding PDB/GDP. Disamping itu, relatif baiknya pertumbuhan ekonomi Malaysia juga didukung oleh penanaman modal asing (Foreign Direct Investment/FDI) serta kuatnya pasaran modal. Namun demikian, dalam kondisi perekonomian seperti saat ini, Malaysia tidak berharap bahwa pertumbuhan ekonominya akan sebaik seperti waktu-waktu sebelumnya kerana sudah terlihat indikasi adanya penurunan 4 faktor utama yang selama ini menjadi pendukung pertumbuhan ekonominya, yaitu:

  • Ekspor menurun karena menurunnya permintaan dunia dan ini terlihat pada kinerja ekspor 2009, dimana ekspor turun sebesar 21,13% dibanding periode yang sama tahun 2008 (Tabel I).
  • Krisis ekonomi global mengakibatkan menurunnya kegiatan investasi, terutama investasi asing. Investasi asing pada 2009 hanya mencapai USD 6,5 milyar, dengan 766 proyek. Sedangkan pada tahun 2008 investasi asing tersebut mencapai USD 18,1 milyar, dengan 919 proyek (Tabel IV).
  • Hancurnya pasaran saham global turut mempengaruhi penurunan secara signifikan Bursa Malaysia. Melemahnya kinerja Bursa Malaysia merugikan investor dan konsumen, terutama saham-saham sektor jasa yang biasanya menjadi saham unggulan (blue chip).
  • Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas dan keterkaitannya dengan kemerosotan ekonomi global, maka pertumbuhan PDB/GDP Malaysia tahun 2009 mengalami kontraksi sebesar -1,7%, relatif lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya yaitu -3,0%.

Guna meredam pengaruh kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negerinya, Pemerintah Malaysia telah menerbitkan 2 (dua) paket stimulus ekonomi.

 

Paket Stimulus Ekonomi Pertama, 4 Nopember 2008.

Melalui paket ini, Pemerintah menyediakan dana lebih dari RM 7 milyar (USD 2 milyar) untuk memperkuat daya tahan negara sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi dalam menghadapi krisis keuangan global. Dana paket stimulus ekonomi merupakan hasil penghematan subsidi BBM yang akan digunakan untuk 15 bidang termasuk perumahan, pendidikan, transportasi serta insentif bagi mendorong investasi dan perdagangan yang secara langsung bermanfaat kepada rakyat serta untuk mendorong aktivitas perekonomian.

Sebanyak RM 1,5 milyar (USD 420 juta) akan digunakan sebagai dana khusus guna menarik investasi sektor swasta. Dana tersebut berbentuk dana bantuan (grants), pinjaman lunak (soft loans) atau equity.

Untuk pembangunan fasilitas publik (jalan raya, sekolah dan rumah sakit), pembangunan jalan di daerah pedalaman (termasuk Sabah dan Sarawak) serta peningkatan sistem transportasi publik terutama Light Railway Transit (LRT), KTMB (Keretapi Tanah Melayu Berhad) Commuter, dan bus di daerah pedalaman dan pedesaan dialokasikan dana masing-masing sebesar RM 500 juta (USD 140 juta).

Untuk pemantauan pelaksanan berbagai proyek, pemerintah mendirikan Unit Pengurusan Projek yang anggotanya terdiri dari Pejabat Senior Kementerian Keuangan (Ministry of Finance) dan BUMN yang langsung dibawah pengawasan Menteri Keuangan.

 

Paket Stimulus Ekonomi Kedua, 10 Maret 2009

Paket Stimulus Ekonomi Kedua mengalokasikan dana sebesar RM 60 milyar (USD 16,15 milyar) atau sebesar 9% berbanding PDB/GDP. Paket stimulus tersebut dilaksanakan pada tahun 2009 - 2010 dan digunakan untuk:

  • Suntikan fiskal sebesar RM 15 milyar (USD 4,04 milyar)
  • Guarantee funds sebesar RM 25 milyar (USD 6,73 milyar)
  • Modal investasi sebesar RM 10 milyar (USD 2,69 milyar)
  • Private finance initiative dan off-budget projects sebesar RM 7 milyar (USD 1,88 milyar)
  • Insentif pajak sebesar RM 3 milyar (USD 0,81 milyar)

Dalam hal suntikan fiskal, RM 10 milyar (USD 2,69 milyar) akan digunakan pada tahun 2009 dan RM 5 milyar (USD 1,35 milyar) untuk tahun 2010. Alokasi dana tahun 2009 adalah untuk keperluan belanja operasional dan belanja pembangunan. Besarnya jumlah belanja operasional dan pembangunan pada tahun 2009 tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan defisit neraca keuangan Pemerintah Federal menjadi berkisar diantara 4,8% hingga 7,6%. Namun demikian, Pemerintah yakin bahwa kebijakan fiskal yang berkesinambungan memiliki fleksibilitas dan kapasitas untuk mengakomodir defisit tersebut, karena peningkatan defisit ini bersifat sementara. Pemerintah memberi jaminan bahwa posisi fiskal akan kembali membaik dalam beberapa tahun mendatang.

Paket stimulus ekonomi Kedua ini ditujukan untuk mengatasi 4 (empat) faktor utama yang timbul akibat krisis ekonomi global, yaitu:

1.  Mengurangi Tingkat Pengangguran dan Meningkatkan Lowongan Pekerjaan.

Buruknya kondisi perekonomian global mengakibatkan perusahaan-perusahaan terutama sektor manufaktur ditutup atau mengurangkan aktifitasnya. Hal ini membuat tingkat penggangguran pada tahun 2009 diperkirakan menjadi 4,5% berbanding hanya 3,7% tahun 2008. Sejak bulan Oktober 2008 sebanyak 25.000 orang tenaga kerja kehilangan pekerjaan, sebanyak 30.900 orang diberhentikan sementara dan 23.900 orang mengalami pemotongan gaji.

Pemerintah sangat prihatin dengan masalah ini, maka untuk mengatasi masalah pengganguran tersebut, pemerintah Malaysia melalui pelaksanaan berbagai proyek dan program akan menyediakan 163.000 lowongan pekerjaan serta  menyediakan pelatihan baik di sektor publik maupun di swasta. Untuk pelatihan tersebut dialokasikan dana sebesar RM 700 juta (USD 188,48 juta).

Kebijakan lain yang diambil dan dilaksanakan oleh pemerintah Malaysia berkaitan dengan tenaga kerja yaitu menaikan pajak (levy) Tenaga Kerja Asing (TKA) dari RM 1.800 per tahun menjadi RM 3.600 per tahun, kecuali untuk sektor konstruksi, perkebunan dan penata laksana rumah tangga. Kebijakan ini diambil dengan tujuan untuk mengurangkan ketergantungan terhadap TKA dan sekaligus memberi peluang yang lebih besar bagi sumber daya manusia lokal untuk mendapatkan lowongan pekerjaan.

2.  Meringankan Beban Masyarakat Terutama Kelompok Masyarakat Yang Rentan Dari Segi Ekonomi.

Penghapusan kemiskinan masih menjadi agenda utama pemerintah. Turunnya harga komoditi terutama minyak sawit dan karet alam sangat dirasakan oleh petani kecil.

Bertujuan untuk meringankan beban rakyat terutama kelompok yang rentan dari segi ekonomi, pemerintah dalam Paket Stimulus menyediakan berbagai subsidi, insentif, bea siswa dan bantuan pendidikan serta program kesejahteraan sosial. Melalui pelaksanaan berbagai kebijakan yang bertujuan untuk mengurangkan beban rakyat miskin tersebut, pada tahun 2009, Pemerintah mengalokasikan dana sebesar RM 27,9 milyar (USD 7,51 milyar) untuk subsidi, dana penyangga guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan berbagai bentuk bantuan lainnya.

Disamping itu, sebanyak RM 674 juta (USD 181,47 juta) dari dana subsidi tersebut dialokasikan untuk mencegah terjadinya kenaikan harga bahan pokok seperti gula, roti dan tepung gandum. Tanpa subsidi, harga gula akan naik sebesar RM 0,47 (USD 0,13) per kilogram, tepung gandum naik sebesar RM 0,60 (USD 0,16) per kilogram dan roti naik RM 0,26 (USD 0,07) per 400 gram. Selain subsidi untuk bahan keperluan pokok, pemerintah juga menyediakan subsidi sebesar RM 480 juta (USD 129,24 juta) untuk mencegah terjadinya kenaikan tol.

3.  Bantuan Kepada Pihak Swasta Untuk Mengatasi Krisis.

Usaha Kecil Menengah (UKM) memegang peranan cukup penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan memberikan peluang pekerjaan. Pada saat ini, 99% dari perusahaan yang terdaftar di Malaysia terdiri dari UKM.Pemerintah menyadari bahwa sejak terjadinya krisis ekonomi banyak UKM yang menghadapi masalah terutama dari segi penurunan ekspor produk-produk yang dihasilkannya.

Untuk membantu UKM mengatasi masalah tersebut diatas, Pemerintah membentuk Working Capital Guarantee Scheme dengan jumlah alokasi dana sebesar RM 5 milyar (USD 1,35 milyar) untuk modal kerja bagi perusahaan yang mempunyai modal dibawah RM 20 juta (USD 5,38 juta). Jumlah pinjaman maksimum untuk modal kerja tersebut yaitu RM 10 juta (USD 2,69 juta) dan jangka pengembalian paling lama 5 tahun. Di dalam paket stimulus ekonomi pemerintah juga menyediakan beberapa program kredit mikro termasuk yang disediakan oleh Amanah Ikhtiar Malaysia, Tabung Ekonomi Kumpulan Usahawan Nasional (TEKUN), Bank Simpanan Nasional dan AgroBank yang tidak memerlukan penjamin dan prosedurnya sangat sederhana dengan tujuan untuk menambah kemampuan modal.

Disamping itu, ada sektor-sektor tertentu yang mendapat perhatian khusus antara lain sektor otomotif. Untuk membantu sektor tersebut agar lebih berdaya maju, pemerintah mengalokasikan dana tambahan sebesar RM 200 juta (USD 53,85 juta) kedalam Automotive Development Fund agar terus dapat memberikan dukungan pengembangan industri otomotif serta mendirikan Automotive Institute of Malaysia. Dalam hal industri penerbangan, pemerintah akan membangun terminal khusus untuk perusahaan penerbangan tambang murah (Low Cost Carrier terminal/LCCT) dengan dana sebesar RM 2 milyar (USD 0,54 milyar) dan proyek tersebut diperkirakan akan selesai pada tahun 2011.

Untuk sektor pariwisata, pemerintah secara intensif akan melaksanakan berbagai program pariwisata guna meningkatkan daya saing. Untuk itu pemerintah mengalokasi dana sebesar RM 200 juta (USD 53,85 juta) untuk meningkatkan prasarana di daerah tujuan wisata, diversifikasi produk pariwisata, mengorganisir lebih banyak konperensi internasional dan ekshibisi di Malaysia.

4. Capacity Building

Sebagai upaya pemerintah untuk mempromosikan investasi swasta terutama swasta dalam negeri, maka pemerintah melalui Khazanah Nasional Berhad meningkatkan jumlah dana untuk keperluan modal investasi menjadi RM 10 milyar (USD 2,69 milyar). Khazanah Nasional Berhad akan menginvestasikan dana tersebut dalam masa 2 tahun dan diutamakan untuk keperluan investasi dalam negeri dengan multiplier effects yang membuka banyak lowongan pekerjaan. Khazanah Nasional Berhad memfokuskan investasi tersebut dalam sektor-sektor yang strategis, termasuk telekomunikasi, teknologi, pariwisata, pertanian dan proyek-proyek yang berkaitan dengan Iskandar Malaysia.

Untuk memonitor perkembangan pelaksanaan ”Paket Stimulus Ekonomi” Pemerintah menubuhkan unit khusus yaitu Project Management Unit (PMU) yang berada dibawah Ministry of Finance bekerjasama dengan Implementation and Coordination Unit (ICU) dan instansi terkait lainnya. Hasil monitoring tersebut dilaporkan langsung kepada Menteri Keuangan. Dengan adanya unit-unit tersebut, target pelaksanaan paket stimulus ekonomi diharapkan dapat dicapai.

Berbagai program dan proyek yang direncanakan dalam “Paket Stimulus Ekonomi Pertama” dengan alokasi dana sebesar RM 7 milyar (USD 2 milyar) intensif dilaksanakan. Hingga saat ini sebanyak RM 6,5 milyar (USD 1,86 milyar) sudah disalurkan kepada berbagai Departemen dan instansi terkait yang berada dibawahnya. Sebanyak RM 1 milyar (USD 0,29 milyar) dari sebagian dana yang telah disalurkan tersebut sudah digunakan untuk keperluan membiayai berbagai proyek termasuk sebanyak 6.267 proyek dibawah Program Penyelenggaraan Infrastruktur Awam (PIA) dan Projek Infrastruktur Asas (PIAS) oleh Implemetation and Coordination Unit (ICU), 2.118 proyek oleh Ministry of Rural and Regional Development, 1.594 proyek oleh Ministry of Education  dan 1.322 proyek oleh Ministry of Health. Pada bulan Juni 2009, kontrak senilai RM 5,2 milyar (USD 1,49 milyar) telah dilaksanakan untuk mencapai target seperti yang telah ditentukan dalam ”Paket Stimulus Ekonomi Pertama”.

Memasuki kuartal ketiga tahun 2009, dengan dilaksanakannya paket stimulus tersebut dapat dilihat bahwa ekonomi Malaysia mulai menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin antara lain dari:

Pertumbuhan PDB/GDP tahun 2009 dari -6,2% pada kuartal pertama menjadi -3,9% pada kuartal kedua, -1,2% pada kuartal ketiga dan 4,5% pada kuartal keempat. Sehingga secara keseluruhan pertumbuhan PDB/GDP pada tahun 2009 meskipun mengalami kontraksi tetapi nilainya relatif lebih rendah dari perkiraan yaitu hanya 1,7%.

Perbaikan kinerja ekonomi Malaysia tersebut terutama di dukung oleh pertumbuhan sektor konstruksi yang tumbuh sebesar 1,1% pada kuartal pertama, 4,5% pada kuartal kedua, 7,9% pada kuartal ketiga dan 8,6% pada kuartal keempat tahun 2009 sebagai dampak positif pelaksanaan berbagai proyek dalam paket stimulus.

Disamping itu, sektor jasa juga mencatat sebesar 1,6% pada kuartal kedua, 3,4% pada kuartal ketiga dan 5,1% pada kuartal keempat tahun 2009.

Sementara itu sektor-sektor utama lainnya yaitu pertanian, manufaktur dan pertambangan mengalami pertumbuhan negatif (Tabel V).

Tingkat pengangguran tahun 2009 sekalipun lebih tinggi dari tahun 2008 masih dalam batas-batas normal. Kuartal pertama, kedua dan ketiga tahun 2009 tingkat pengangguran berturut-turut adalah 4%, 3,6% dan 3,6%. Untuk priode yang sama tahun 2008 masing-masing adalah 3,6%, 3,7% dan 3,2%.

Sebagai bagian dari upaya Pemerintah Malaysia untuk terus meningkatkan daya kompetitifnya di bidang ekonomi, khususnya di sektor investasi ditengah situasi masih lemahnya ekonomi global, PM Malaysia pada tanggal 30 Mei 2009 mengumumkan kebijakan baru yang diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Malaysia dimata investor asing.

Pada intinya kebijakan baru tersebut (i) melonggarkan kewajiban 30% kepemilikan oleh bumiputera bagi perusahaan yang akan listing di bursa Malaysia, (ii) membuka peluang kepemilikan asing 100% atas investasi mereka dibidang usaha fund management, serta (iii) mengurangi secara drastis peran lembaga Foreign Investment Committee (FIC) yang dahulu ditugasi untuk memonitor aturan 30% kepemilikan oleh bumiputera, karena dinilai gagal dalam upaya memajukan peranan bumiputera dalam perekonomian nasional. (iii) Untuk memastikan peran bumiputera dalam perekonomian, Pemerintah mendirikan lembaga Ekuinas.

Kebijakan Pemerintah Malaysia untuk menghapuskan garis pedoman dan fungsi FIC tersebut bertujuan untuk menarik lebih banyak investasi asing khususnya dalam sektor properties. Sebelum ini pihak asing (badan usaha maupun individu) yang ingin membeli tanah, rumah atau bangunan komersial perlu mendapatkan persetujuan dari FIC terlebih dahulu. Hal ini menjadi hambatan kepada investor asing yang ingin menanamkan modalnya di sektor tersebut dan hal tersebut juga dikatakan menghambat pertumbuhan sektor konstruksi. Berbagai wilayah di Malaysia pada saat ini sedang pesat membangun, baik perumahan, kawasan industri maupun gedung komersial sehingga supply melebihi demand. Menurut pengamatan kami hal ini yang menjadi salah satu concern Pemerintah mengambil kebijakan menghapuskan persetujuan oleh FIC untuk membeli properties oleh pihak asing di Malaysia dan juga untuk mendukung program pengembangan wilayah ekonomi khususnya dalam sektor properties seperti JB City Centre dan Nusa Jaya di Iskandar Malaysia.

Sementara itu efektifitas lembaga baru Ekuinas yang diharapkan dapat menjaga dan memastikan peran bumiputera dalam perekonomian Malaysia masih perlu dikaji dan dibuktikan. Saat ini detail dari Ekuinas belum jelas, antara lain bagaimana struktur lembaga baru tersebut dan bagaimana kendali Pemerintah terhadapnya, mengingat Ekuinas disebutkan sebagai lembaga swasta.

Pada 2010, Malaysia mengharapkan ekonominya dapat tumbuh diantara 4,0% hingga 5,0%. Semua sektor perekonomian diperkirakan akan menunjukkan perkembangan positif antara lain sektor pertambangan (1,1%), manufaktur (1,7%), pertanian (2,5%) dan konstruksi (3,2%). Sektor jasa tetap menjadi pemacu utama pertumbuhan ekonomi Malaysia yang diperkirakan tumbuh sebesar 3,6%. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Malaysia juga akan di dukung oleh konsumsi swasta pada kadar 2,9% dan investasi swasta yang kembali pulih serta tumbuh sebesar 3,4%.

Semakin baiknya pertumbuhan ekspor yang diperkirakan sebesar 3,5% dapat memberikan kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi. Inflasi akan tetap berada di paras antara 1,5% dan 2,5% dan tingkat penggangguran berada di bawah 4,0%. Pendapatan per kapita diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 2,5% menjadi RM 24.661 (US$ 7.046) dan daya beli masyarakat (purchasing power parity) naik menjadi US$ 13.177.